[FanFiction] Double Twins Part 2

Cast:

Jo Youngmin

Jo Kwangmin

Kim Rizu

Kim Rara

Sudah seminggu setelah kejadian di kantin. Semenjak hari itu Rizu dan Youngmin sangat jarang menyapa satu sama lain. Sama halnya dengan Kwangmin dan Rara, mereka juga terkadang sulit berkomunikasi dikarenakan Rara yang memiliki sifat cenderung pendiam. Berbeda dengan Kwangmin yang selalu ceria.

Hari ini kelas mereka ada pelajaran olahraga. Sejujurnya saat ini tubuh Rara sedang tidak baik. Bagaimana tidak, sejak pagi lambungnya terus saja terasa sakit entah kenapa. Namun lagi-lagi ia sengaja menyembunyikannya.

“Baiklah..sekarang kita lakukan pemanasan dulu. Lari keliling lapangan sebanyak 5 kali.” Perintah Songsaenim membuat semuanya mulai berlari. Putaran pertama dan kedua memang belum bermasalah bagi Rara. Tapi berbeda saat di putaran ketiga, Perih di lambungnya menjadi sangat kuat. Sakit sekali. Meski begitu ia masih tetap berusaha berlari. Ia tidak ingin terlihat sebagai gadis yang lemah, apalagi di depan Kwangmin. Namun sekuat apapun Rara berusaha, dia tidak mungkin bisa melawan penyakitnya saat ini. Alhasil ia pun ambruk di pinggir lapangan membuat semua orang terkejut, termasuk Kwangmin yang kemudian berlari menghampirinya.

“Ya Kim Rara!! Neo waegurae?!!” Seru Kwangmin seraya mengguncang tubuh Rara. Namun tidak ada respon sama sekali. Gadis itu pingsan.

“Rara~ya!! Waegurae?!!” Tanya Rizu yang panik saat menghampiri Rara.

“Songsaenim..izinkan saya membawa Rara ke Uks..” Kata Kwangmin.

“Sepertinya kau langsung bawa saja dia ke rumah sakit Kwangmin~ah!! Karna di Uks saat ini tidak ada siapapun.” Terang Songsaenim yang langsung diiyakan oleh Kwangmin. Tanpa membuang waktu lagi pemuda itu langsung menggendong Rara.

“Aku ikut,Kwangmin~ah!!” Kata Rizu berniat pergi namun Kwangmin menahannya.

“Tidak usah..bukankah setelah ini ada ulangan matematika?! Kalau kau ikut, bisa-bisa kau tidak ujian.” Baru saja Rizu ingin bicara lagi. Kwangmin sudah lebih dulu menyelanya. “Percaya padaku. Dia akan baik-baik saja..” Katanya tenang.

“Hmm..baiklah. eh keundae..kau sendiri bagaimana?! Itu artinya kau juga..”

“Gwencana..~aku bisa mengurusnya nanti.”

“Jeongmal gomawo~yo, Kwangmin~ah..” Kwangmin hanya tersenyum seraya mengangguk, kemudian bergegas membawa Rara ke mobil miliknya.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::

 

Rara membuka matanya pelan. Mengamati langit-langit ruangan yang berwarna putih. Tercium bau obat-obatan. Dia tau ini rumah sakit, tapi yang ia bingung kenapa ia bisa berada disini? Memangnya apa yang terjadi?. Saat ia sibuk berpikir seseorang tiba-tiba membuka pintu.

“Kau ini…kenapa jadi bodoh seperti itu?!” Tanya Kwangmin menghampiri Rara. Dokter barusan mengatakan semuanya pada dirinya.

“Mwo?” Tanya Rara heran sampai kemudian mengerti maksud pemuda itu.“Ah~chogii..mianhae. Aku hanya berpikir masih bisa melakukan itu walaupun dengan keadaan seperti ini..” Ia benar-benar merasa bersalah.

“Haah~dwaesso..lain kali jangan memaksakan sesuatu lagi kalau memang tidak bisa. Hufft..untunglah kau tidak apa-apa.” Ucap Kwangmin lega. Rara memperhatikan pemuda itu sebentar.Apa mungkin Kwangmin khawatir padaku? Memikirkan itu membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Ia senang sekali

“Baiklah..kalau begitu, sekarang ayo kita kembali.” Pinta Kwangmin yang dibalas anggukan oleh Rara. Saat mereka menuju pintu keluar rumah sakit,tiba-tiba saja Rara berhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tanpa berkata apa-apa ia berbalik menghampiri seorang nenek yang sepertinya begitu lelah dan lemah. Rara lalu memperhatikan beberapa lembar kertas yang dipegangnya. Kwangmin menatap gadis itu bingung. Apa yang sebenarnya ingin dilakukannya..?

“Haelmoni~apa anda ingin melakukan semua tahap pengobatan ini..?” Tanya Rara sopan. Nenek itu hanya mengangguk mendengarnya. Mendadak Rara berbalik kearah Kwangmin. “Kwangmin~si..apa tidak apa-apa kalau kau kembali duluan?”

Kwangmin menatapnya heran.”Mwo?! Memangnya ada apa..?”

Rara tersenyum.“Aku..ingin menemani Haelmoni menyelesaikan pengobatannya.” Kwangmin tertegun mendengarnya. Jadi dia…?

“Mwoya..~kalau begitu aku akan menemani kalian sampai selesai..”

“Eh?! Keundae..bukankah masih ada 1 pelajaran terakhir di sekolah?!”

“Ya~apa maksudmu?! Apa kau pikir aku bisa meninggalkanmu sendirian disini?! Babo~ya..” Rara terdiam mendengarnya. Melihat itu Kwangmin langsung menyadari ucapannya barusan. “Eum..mianhae~aku bukannya bermaksud marah. Hanya saja aku sudah berjanji pada Rizu untuk menjagamu.” Perkataan Kwangmin membuat gadis itu sedikit tenang. Ia tau kalau pemuda itu memang tidak bermaksud kasar padanya.

Seperti yang dikatakannya, Rara benar-benar membantu nenek itu menyelesaikan pengobatannya. Walau harus bolak-balik dari suatu tempat ke tempat lainnya ia sama sekali tidak pernah terlihat lelah. Ia sungguh-sungguh menolongnya. Diam-diam Kwangmin memperhatikan Rara yang sedang membantu membersihkan sisa makanan di pinggir mulut nenek itu. Gadis ini..? bukankah kondisinya sendiri belum baik? Lagipula..hanya orang bodoh yang tidak bisa menebak kalau saat ini ia kelelahan. Tapi..ia masih saja berusaha tersenyum.

Setelah mengantar nenek itu pulang kerumahnya. Kwangmin lalu mengantar Rara pulang kerumahnya. “Rara~ya, sudah sampai” Ucap Kwangmin saat mereka tiba didepan pagar. Rara yang tertidur karna lelah jadi bangun.

“Ah~sudah sampai..mianhae aku sampai tertidur. Oh ya, Kwangmin~si..hari ini jeongmal gomawoyo..sampai jumpa.” Sapanya. Kwangmin tidak menjawab, ia terus memperhatikan gadis itu. Firasatnya tidak enak. Dan benar saja, tepat saat Rara berjalan masuk tubuhnya tiba-tiba terhuyung lemah. Untung saja Kwangmin berhasil menangkapnya. “Agh neo jiinca..” Tiba-tiba saja Kwangmin menggendongnya. Membuat gadis itu terkejut setengah mati. “Kwangmin~si..apa yang kau lakukan..?!!!” Serunya. Namun Kwangmin tidak menjawab,dia terus membawa gadis itu sampai dikamarnya lalu membaringkannya disana.

“Haah~kau ini..berat sekali. Badanku sampai sakit semua..” Ucap Kwangmin sambil meregangkan tubuhnya. Rara merasa menyesal karna itu. “Mianhae..~”

“Ah~jiinca..aku benar-benar bingung denganmu. Kau ini terlalu baik atau terlalu bodoh sih?! Aku kan hanya bercanda..” Pemuda itu malah terkekeh. Rara yang baru menyadarinya hanya tersenyum malu. Perasaan itu kini telah hadir.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::

 

Saat ini sudah pukul 9 malam, dan Rizu masih tetap berniat pergi ke Supermarket dekat rumah. Sebenarnya ia biasa pergi bersama dengan Rara,tapi berhubung adiknya itu sedang sakit jadi dia terpaksa belanja sendirian.

Satu demi satu barang yang ia perlukan dikumpulkannya. Namun ia terkejut saat berniat mengambil sebuah camilan. Seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan muncul dari kejauhan. Youngmin ternyata sedang membeli sesuatu disana. Berpikir bahwa Youngmin belum melihatnya, membuat Rizu berniat secepatnya pergi dari tempat itu. Gadis itu masih merasa canggung jika bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekalipun mereka adalah tunangan.

Satu per satu barang telah di check di kasir, namun sial saat ingin membayar Rizu ternyata lupa membawa dompetnya. Membuat gadis itu panic seketika. “Egh..cho..chogii, bisakah kalau saya membayarnya lain kali. Aku..aku pasti akan membayarnya nanti. Aku lupa membawa dompetku..” Pinta Rizu.

“Maaf nona..tapi kami tidak bisa melakukan itu..ini adalah peraturan di supermarket kami.” Sahut Karyawan di kasir itu. Hal itu membuat Rizu bertambah panik. Bagaimana ini?! Padahal aku sudah berjanji pada Rara akan menikmatinya bersama-sama…

“Tolong satukan jumlahnya dengan milikku. Nanti biar aku yang membayar belanjaan gadis ini..” Sebuah suara yang begitu dikenal oleh Rizu membuat gadis itu terpaku seketika. Jo Youngmin. Dengan gugup Rizu berbalik kearah Youngmin,tapi pemuda itu tidak memperdulikannya sama sekali. Selesai membayar, tanpa berkata apa-apa Youngmin langsung pergi meninggalkannya. Padahal gadis itu berniat berterima kasih. Apa dia masih marah padaku?

Otak Rizu yang terus saja memikirkan banyak hal membuat gadis itu tidak memperhatikan jalannya. Ia baru saja menyadari kalau jalan yang dilaluinya saat ini ternyata sepi sekali. Tidak ada seorangpun disini. Tiba-tiba saja firasatnya tidak enak. Ia merasa kalau ada seseorang yang sedang mengikutinya. Dan benar saja, saat ia berniat pergi tiba-tiba saja ada 2 orang preman yang menahannya.

“Wah~nona cantik..mau kemana sendirian malam-malam begini..?” Kata salah seorang preman itu sambil tertawa.

“Ya~!! Ma..mau apa kalian..jangan macam-macam..!!” Gertak Rizu berusaha untuk terlihat tenang.

“Haha~tidak usah galak begitu. Kami hanya ingin main sebentar denganmu..ayolah..~” Ucap preman yang satunya lagi. Kali ini mereka mulai menarik tangan Rizu. Sejujurnya saat ini gadis itu benar-benar merasa ketakutan. Otthokhae?!! Appa~tolong aku..”gumamnya.

Tiba-tiba saja sebuah benda mendarat di kepala salah satu preman itu. Ada seseorang yang sengaja melemparnya dengan sebuah kantong plastik berisi barang belanjaan. Ternyata orang itu tidak lain adalah Youngmin. Seketika kedua preman itu berlari kearahnya dan berniat memukulnya,namun dengan sigap Youngmin mampu menghindar kemudian balik memukul mereka satu per satu hingga babak belur. Sayangnya saat berkonsentrasi pada seseorang saja, preman yang satu lagi tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah pisau dan berniat menusuk Youngmin. Beruntung Rizu yang melihatnya langsung berteriak sehingga Youngmin tidak tertusuk. Tapi sayang, lengannya malah tergores oleh pisau itu. Melihat hal itu membuat Youngmin seketika menendang preman tersebut hingga akhirnya ambruk.

“Youngmin~si..Gwencanayo?!! Omo~lenganmu berdarah!!” Pekik Rizu saat melihat darah yang memenuhi lengan baju pemuda itu. Gadis itu benar-benar khawatir dan juga panik. Itulah mengapa ia lalu merobek ujung kain bajunya dan berniat menutup lengan Youngmin agar pendarahannya bisa berhenti.

“Dwaesso!!..tidak usah pedulikan aku. Cepatlah pulang!!” Youngmin menepis tangan gadis itu.

“YAA!! JO YOUNGMIN!! Aku tau kalau kau tidak menyukaiku, tapi setidaknya bersikap baiklah sedikit padaku!! Aku kan hanya ingin membantumu!!” Kata Rizu kesal lalu kembali mengikatkan kain itu ke lengan Youngmin yang berdarah. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu sangat keras kepala.

“Aku tidak butuh bantuanmu!! Lagipula aku kan sudah bilang..kau tidak tau..”

Ucapan Youngmin terhenti saat Rizu lebih dulu menyelanya. “Arra!! Aku memang tidak tau apa-apa tentang dirimu!! Yang kutau saat ini hanya satu. Aku ingin menolong seseorang yang terluka karna berusaha melindungiku. Apa aku salah?!! Neo jiinca~Apa kau tau bagaimana paniknya diriku saat melihat kau hampir saja tertusuk Hah?!! Aiissh~ dasar namja brengsek!!” Entah apa yang terjadi dengannya. Saat ini Rizu sendiri tidak tau apa yang diucapkannya. Kalimat  itu terucap begitu saja. Dan yang semakin membuatnya bingung, airmata malah menetes di pipinya.

“Keurae~aku memang brengsek! Karena itu… akan lebih baik jika kita tidak bersama-sama.” Tanpa berkata apa-apa lagi Youngmin menaiki motornya lalu melaju meninggalkan Rizu sendirian. Gadis itu masih terisak di tempatnya, perkataan Youngmin barusan membuat dadanya terasa sakit. Satu hal yang ia sadari saat ini. Ia menyukai pemuda itu.

#TBC

Author :  Nylam Dell’amore Jinyoung

add author  at facebook  Nylam Dell’amore Jinyoung and follow her twitter @qui1291

Dont forget to leave comment :))

recent post :

3 thoughts on “[FanFiction] Double Twins Part 2

  1. Pingback: [FanFiction] Double Twins Part 1 |

  2. Pingback: [FanFiction] Double Twins Part 3 |

  3. Pingback: [FanFiction] Double Twins Part 4 (End) |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s